JAKARTA, MATANEWS.MY.ID – Praktek politik transaksional dinilai menjadi ancaman paling serius bagi keberlangsungan demokrasi yang sehat, bermartabat, dan berkeadilan di Indonesia. Ketika proses politik melenceng menjadi ajang pertukaran uang, jabatan, hingga proyek kekuasaan, publik menjadi pihak yang paling dirugikan.
Pemerhati publik dan pengamat politik, Dede Farhan Aulawi, menegaskan bahwa fenomena perburuan kekuasaan berbasis modal ini secara perlahan mengikis substansi utama demokrasi. Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang perjuangan aspirasi masyarakat kini terancam bergeser menjadi pasar gelap transaksi kepentingan.
“Daya rusak politik transaksional tidak hanya terjadi saat pemungutan suara di pemilu, tetapi merembet ke seluruh tata kelola pemerintahan. Kebijakan publik berpotensi besar dibuat bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk segelintir pemodal dan kelompok tertentu,” ujar Dede Farhan Aulawi di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Dampak Buruk Politik Transaksional Menurut Dede Farhan Aulawi:
-
Mengikis Prinsip Meritokrasi: Keputusan politik dan pengisian posisi strategis pemerintahan tidak lagi didasarkan pada kompetensi, melainkan transaksi pragmatis.
-
Melahirkan Apatisme Publik: Rakyat tidak lagi dipandang sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, melainkan sekadar objek pelengkap untuk meraih suara saat pemilu.
-
Memicu Korupsi Kekuasaan: Anggaran negara dan kebijakan publik berisiko tinggi dikorupsi guna mengembalikan modal politik yang telah dikeluarkan.
-
Merusak Kepercayaan Institusi: Ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik dan lembaga negara semakin membesar akibat minimnya transparansi.
Dede menambahkan, untuk membangun demokrasi yang bermartabat, seluruh elemen bangsa harus mengembalikan politik pada kompas utamanya, yakni nilai gagasan, integritas, dan pengabdian.
“Melawan politik transaksional adalah tanggung jawab bersama. Demokrasi akan pulih ketika suara rakyat dihormati, kekuasaan diawasi secara ketat, dan setiap kebijakan lahir demi kemakmuran bangsa, bukan hasil transaksi segelintir elit,” tegas Dede memungkas pandangannya.
(Red/Mata-News)

